IFORMASI A1

SEMBAKOHarga per Kg
Telor Ayam Horn17.500 - 18.500
Beras Strobery10.250 - 10.500
Gula Pasir Baru12.500 - 13.000
Gula Pasir Mantu11.500 - 12.000


JUDUL CERITARangking
Kawin Paksa : Malu Tapi Mau
Cerita Cinta : Malu Tapi Mau
Cerita Malam Pertama
Cerita Lucu Brewokan


KICAU MANIARangking
Download CD Master


Home » , , » Kisah Asmara Ratu Kalinyamat

Kisah Asmara Ratu Kalinyamat



Sumber gambar http://nadaekanovaatasya.blogspot.co.id/

Retno Kecono adalah putri dari sultan trenggono, sultan trenggono merupakan anak dari Raden Patah yang merupakan penguasa Kerajaan Demak yang pertama. Retno Kencono karena hidup di dalam kerajaan yang sangat berkuasa waktu itu maka tumbuh menjadi perempuan yang amat molek dengan tubuh putih dan tampilan kecantikan yang membuat lelaki pada zaman itu ingin memiliki semua, banyak laki-laki saat itu terutama panglima-panglima raja dan anak-anak raja saat itu yang ingin memilikinya, sampai-sampai Pangeran Hadliri yang notabene anak dari Raja Palembang juga kesemsem dengan kemolekan dan kecantikan Retno Kencono.

Perlu kamu ketahui semua bahwa Retno Kencono adalah nama asli dari Ratu Kalinyamat, nama Retno Kencono berubah menjadi Ratu Kalinyamat ketika Retno Kencono diangkat menjadi penguasa wilayah Jepara kala itu. Kalau para abdi dalem kala itu menyebut Raden Ayu Wuryani, Kenapa Retno Kencono atau Raden Ayu Wuryani bisa mempunyai tubuh yang molek dan paras yang cantik menawan ? Karena waktu itu Sultan Trenggono, anak dari Raden Patah penguasa Kerajaan Demak yang pertama menikah dengan putri cina yang sangat cantik dan molek 

Karena masa itu kekuasaan untuk menguasai suatu wilayah itu hal yang sangat berpengaruh bagi seorang raja di tanah Jawa, maka sudah pasti banyak raja-raja dari tanah sumatra atau sulawesi yang selalu menjalin kerjasama dengan raja-raja Jawa. Begitu pula dengan Pangeran Hadliri yang tumbuh menjadi panglima kerajaan Palembang yang disegani oleh para raja-raja jawa, suatu hari dia mampir ke kerajaan Demak dengan di sertai para prajuritnya, sudah pasti raja Demak kala itu sultan Trenggono menjamu tamunya dengan pesta dan tarian khas daerahnya.

Karena mengadakan pesta dan tarian pastilah semua anak-anak sultan Trenggono hadir dalam jamuan itu, begitu juga dengan Retno Kencono yang pasti tampil sangat cantik dan molek. Dan ketika Retno Kencono muncul dari dalam keprabon semua tamu yang hadir berdecak kagum dengan kecantikan dan kemolekan Retno Kencono begitu juga Pangeran Hadlirin, ketika Retno Kencono sudah didik di sebelah sultan Trenggono dan permasuri, tak henti-hentinya Pangeran Hadlirin selalu melirik ke arah Retno Kencono berada sehingga lama-lama Retno Kencono yang selalu diperhatikan menjadi salah tingkah dan sering menunduk.

Tapi lama-lama Retno Kencono kelihatan penasaran dengan tampilan Pangeran Hadlirin yang tinggi, putih, tegap dan berparas rupawan itu, maka Retno Kencono mulai berbisik dengan para putri-putri pendampinya. "Sekar.....tahu nggak kamu siapa nama pangeran itu dan dari mana asalnya...........", abdi dalem putri yang mendampingi Retno Kencono yang bernama Sekar senyum-senyum menggoda Retno Kencono, sambil mendekatkan tangan dan mulut ke telinga Sekar mulai berbisik "Karsa...kemarin cerita sama saya tuan putri....katanya kita kedatangan Pangeran Hadlirin dari kerajaan Palembang yang tinggi, gagah, tampan dan sangat sopan.......", "Karsa.......pacar kamu itu ya.........nggak takut sama Sinta...teman kamu itu yang sudah naksir lama sama Karsa....." kata Retno Kencono.

"Tidak tuan putri.........kata Karsa....dia cuma cinta sama aku dan tidak suka sama Sinta...katanya anaknya galak dan suka mengatur, putri-putri.... itu lihat........Pangeran Hadlirin selalu lihatin terus kesini........" sahut Sekar. Ya selama perhelatan jamuan makan dan tari Pangeran Hadlirin selalu memandang Retno Kencono dengan decak kagum, karena Retno Kencono bukan saja memperlihatkan kecantikan tapi dia juga memperlihatkan kemolekan yang menyebabkan semua lelaki akan bertekuk lutut di hadapannya. Setelah perhelatan jamuan makan dan tari, Pangeran Hadlirin di persilahkan untuk istirahat di keprabon, maka dia pun menuju kamar dan langsung tiduran tapi sayang ternyata yang muncul malah bayangan putri Retno Kencono terus, untuk menghilangkan kejenuhan sang Pangeran keluar kesultanan dan ingin menikmati udara sore di kesultanan Demak.

Pangeran Hadlirin agak kikuk dan serba salah karena sepanjang sungai di kesultanan Demak ketika sore hari di penuhi ibu-ibu dan remaja-remaja putri yang mencuci dan mandi (kira-kira tahun 1990 an masih kita jumpai di sepanjang sungai Demak). Karena semua orang dia lihat sudah terbiasa dengan keadaan seperti itu, ia pun mulai membiasakan dirinya dengan situasi kesultanan Demak, kalau memang jodoh tidak kemana, pas Pangeran Hadlirin mau menuju kesultanan, dari jauh terlihat Retno Kencono dan abdi-abdi dalem keputren baru jalan-jalan juga menuju sungai di mana dia berada. Retno Kencono terlihat tidak menyadari kalau di depannya agak jauh ada sang Pangeran dan ketika sudah dekat maka terkejutlah Retno Kencono dan membuat pipinya terlihat memerah karena malu, membuat kecantikan dan kemolekan tubuhnya bertambah indah di maka sang Pangeran dan ketika mau lari maka sang Pangeran Hadlirin dengan sigap dan sopan menyapanya.

"Aden putri Retno Kencono...jangan cepat-cepat jalannya nanti kalau terantuk batu........bisa melukai tubuh yang indah dan paras yang menawan milik putri........" kata Pangeran Hadlirin sambil menunjukkan senyum persahabatan. Putri Retno Kencono semakin salah tingkah dan tak mampu untuk membalas ataupun memandang wajah Pangeran Hadlirin. Tapi terlihat jelas dia punya rasa kagum dengan kegagahan dan ketampanan wajah sang pangeran. Maka sang Pangeran melanjutkan bicaranya "putri Retno Kencono maukah kamu menemaniku melihat keindahan kesultanan ini ?", terlihat putri Retno Kencono melihat ke wajah pangeran Hadlirin dengan pipi yang memerah sambil menganggukkan kepalannya, maka semua abdi keputren mulai sedikit menjauh dari sang putri dan mengikuti di belakang sang Pangeran yang berjalan beriringan. Maka mulailah mereka berdua berjalan bersama sambil bersenda gurau, kadang-kadang terlihat tangan sang putri memukul-mukul tubuh samping sang pangeran, terlihat mereka berdua memang serasi menjadi suami istri, sang pangeran tinggi tampan dan sang putri cantik dengan tubuh molek.

Ketika hari ketiga maka berpamitanlah Pangeran Hadlirin ke Sultan Trenggono di kasultanan, "Sultan Trenggono...saya sebagai wakil ayah mengucapkan trimakasih atas kerjamasama kesultanan Demak dengan kerajaan Palembang yang terjalin dengan baik...maka hari ini saya mohon pamit untuk melanjutkan perjalanan pulang ke Palembang" kata Pangeran Hadlirin, "Saya juga trimakasih karena Pangeran berkenan singgah ke kesultanan Demak.....dan bilang pada Raja Palembang bahwa saya pasti akan kesana untuk mengucaokan trimakasih atas jalinan persaudaraan ini" kata Sultan Trenggono. Pangeran Hadlirin terlihat masih ada sesuatu yang dia bicarakan tapi mulutnya masih terlihat terkunci rapat, tapi ternyata Sultan Trenggono melihatnya maka dia pun berkata "Kelihatannya Pangeran masih menyimpan sesuatu yang mungkin penting untuk kesultanan ini ?". Dengan wajah yang agak memerah Pangeran mulai berbicara "Ya memang ada yang saya sampaikan Sultan..........beberapa hari disini saya merasa seperti di kerajaan sendiri dan hati saya terpikat oleh...putri Sultan yaitu Retno Kencono...kalau hamba ada salah kata hamba minta maaf Sultan....."

Sultan Trenggono tersenyum dan mulai berbicara "Pangeran Hadlirin.....Sultan memang orang tua dari Retno Kencono tapi saya tak bisa memutuskan sepihak, biar Retno Kencono di panggil dulu...nanti kamu bisa bicara sendiri padanya...kalau orang tua seperti saya hanya bisa merestui saja pengeran". Maka dipanggillah sang putri dari dalem kaputren dan sebentar kemudian muncullah sang putri menuju ruang pertemuan antara Pangeran Hadlirin dengan Sultan Trenggono. "Anakku Retno Kencono, bapak memanggil kamu kesini pasti ada perlunya dan sebelum menjawab kamu harus memikirkannya dengan bijak anakku..., Pangeran Hadlirin ini...........putra kerajaan Palembang, bilang sama bapak bahwa dia ingin memperistri kamu...anakku, kamu mau apa tidak...katanya dia terpikat oleh kecantikan dan kemolekan kamu". Situasi kesultanan terlihat hening karena tidak ada suara sepatah katapun yang keluar dari orang yang ada di ruangan itu, semua mata tertuju pada putri Retno Kencono, sang putri terlihat grogi dan dia tersenyum sambil menganggukkan kepala tanda mau di pinang oleh sang Pangeran Hadlirin, maka semua orang di ruangan itu tersenyum dengan hati yang lega.

Dan sebelum pulang terlihat di salah satu ruang kesultanan sang Pangeran Hadlirin dan putri Retno Kencono saling berpengan tangan. "Putri...aku akan pulang ke Palembang untuk bilang sama bapak untuk melamar kamu dan secepatnya melangsungkan pernikahan". Sang putri semakin erat menggenggam jari jemari sang pangeran sambil berkata "Pangeran jangan lama-lama di sana...saya takut kamu tak kembali lagi kesini, hati-hati di jalan kalau ada badai jangan melanjutkan perjalanan dulu". Pangeran mulai mendekatkan wajahnya ke wajah sang putri, putri mulai terlihat memejamkan matanya dan mulai sang Pangeran menjatuhkan bibirnya ke kening sang putri untuk mengecupnya. Ketika sang putri masih menutup matanya sang Pangeran bisa memperhatikan kecantikan sang putri, ketika melihat bibir sang putri yang merekah dan memerah Pangeran mulai memejamkan matanya dan mulai menjatuhkan bibirnya ke bibir sang putri dan mulai memangutnya sang putri mulai memeluk sang Pangeran dengan erat dan mereka saling melepas ketika mendengar deheman sultan Trenggono. "Pangeran ini ada cenderamata untuk Ayah...semoga beliau berkenan menerimanya...." kata Sultan Trenggono.

"Trimakasih Sultan...........sekalian saya minta pamit untuk segera pulang ke palembang dan nanti kesini kembali untuk melamar sang putri Retno Kencono, Sultan Trenggono menganggukkan kepala dan sang putri terlihat berduka hati karena harus berpisah dulu dengan sang Pangeran yang sedang menghiasi hatinya dengan bunga-bunga cinta. Pangeran mulai keluar dari kesultanan dengan diiringi para pengawalnya dan mulai menunggang kuda dan sebentar langsung melarikan kudannya untuk menuju ke perahu kerajaan yang sudah terparkir di sungai Demak untuk menuju ke lautan jawa dan kembali menuju kerajaan Palembang. Setelah sebulan berlalu maka datanglah rombongan dari kerajaan Palembang untuk meminang sang putri Retno Kencono sekalian mengadakan perkawinan yang meriah di kesultanan Demak. Singkat cerita menikahlah sang putri Retno Kencono dan pangeran Hadlirin dengan pesta tujuh hari tujuh malam yang sangat meriah. Sang Pangeran Hadlirin yang Gagah dan Tampan dengan sang putri Retno Kencono yang cantik dan molek tubuhnya. Maka setelah menikah kira-kira satu bulan Sultan Trenggono memanggil pangeran Hadlirin dan Retno Kencono, "Karena wilayah Kesultanan Demak luas dan kamu sudah menikah maka aku akan meberikan wilayah Jepara ke tangan kamu berdua". Maka sejak saat itu mereka berdua menguasai wilayah Jepara, sambil menikmati bulan madu mereka berdua selalu melihat perkembangan pasukan laut dan masyarakat Jepara yang masih di lindungi benteng bambu dan pohon jati, karena wiyah ini dilindungi pohon bambu dan jati di mana-mana. Maka mereka berdua saling mendukung perekonomian masyarakat Jepara dengan mengembangkan ukir dan kelautan.

Tapi sayang beribu sayang, baru menikmati bulan madu yang sangat menyenangkan dan mengembangkan ukir dan kelautan di Jepara, kesultanan Demak mengalami perebutan kekuasaan yang menyebabkan Sultan Trenggono terbunuh dan Retno Kencono semakin terpukul ketika Pangeran Hadlirin ketika pulang dari Demak melayat ayahnya di cegat oleh anak buah Aryo Penangsang dan terbunuh. Beruntung Retno Kencono bisa di selamatkan oleh para pengawalnya. Sejak saat itu Retno Kencono wajahnya terlihat murung karena orang-orang yang selama ini sangat dia cintai mati terbunuh oleh Aryo Penangsang. Maka dia punya niat yang sangat nekat yaitu bertapa telanjang dan tak akan selesai sebelum bisa membunuh Aryo Penangsang. Pergilah Retno Kencono ke sebuah wilayah yang belum ada penghuninya saat itu, letaknya di sebelah timur kota Jepara yaitu di kecamatan Tulakan, desa Donorejo, karena di situ ada sebuah pegunungan kecil dan di atasnya Retno Kencono mulai melakukan tapa tanpa memakai pakaian sehelaipun ditubuhnya. Sejak saat itu Retno Kencono tak terlihat di pemerintahan wilayah Jepara dan masih ada perebutan kekuasaan di kesultanan Demak karena semua anak-anak Sultan Trenggono dan keluargannya selalu berebut ingin menguasai kesultanan Demak.

Maka benarlah perkiraan Retno Kencono, bahwa Aryo Penangsang berhasil di bunuh saudaranya yang bernama Sultan Panjang atau disebut juga Raden Hadiwijoyo (Joko Tingkir) dan membawakan kepala dan darah Aryo Penangsang ke hadapannya maka selesailah tapa Retno Kencono yang sudah berlangsung dua windu itu. Karena keinginan Retno Kencono berhasil yaitu membuat kesed kepala Aryo penangsang dan akan meminum darah dari Aryo penangsang. Maka bersukacitalah masyarakat wilayah Jepara karena sang ratu yang selama ini sudah bisa membangun masyarakat Jepara dengan ukir dan pelayaran mau mengakiri bertapa dan turun gunung dari Donorojo untuk memimpin kembali Jepara, setelah turun dari gunung Donorojo, Retno Kencono langsung membersihkan dirinya di sebuah sungai di desa Tulakan. (sungai itu sampai sekarang kalau malam jum'at wage pasti rame oleh orang-orang yang mandi baik cowok maupun cewek untuk meminta jodoh atau kecantikan). Retno Kencono di jemput oleh para pengawalnya untuk di bawa ke jepara untuk segera di angkat sebagai Ratu, dan Retno Kencono mendapat gelar "Kanjeng Ratu Kalinyamat"

Dan sampai sekarang jangan heran kalau kamu kenal cewek Jepara pasti cantik-cantik dan molek, sangat sulit untuk melepaskan diri dari cintanya karena mereka semua titisan dari Kanjeng Ratu Kalinyamat.

Disadur dari "Babad Tanah Jawi"


Paling Disuka

Translate