IFORMASI A1

SEMBAKOHarga per Kg
Telor Ayam Horn17.500 - 18.500
Beras Strobery10.250 - 10.500
Gula Pasir Baru12.500 - 13.000
Gula Pasir Mantu11.500 - 12.000


JUDUL CERITARangking
Kawin Paksa : Malu Tapi Mau
Cerita Cinta : Malu Tapi Mau
Cerita Malam Pertama
Cerita Lucu Brewokan


KICAU MANIARangking
Download CD Master


Home » » Kawin Paksa : Mantan Pacar Teman Karibku

Kawin Paksa : Mantan Pacar Teman Karibku

Pagi itu Via terlihat baru bermalas-malasan di tempat tidur karema memang baru jam 5.00 wib, ia terlihat sedang mengamati Hp kesayangannya dan langsung tersenyum ketika membuka Account WA karena teman karibnya yaitu Fifi udah kirim pesan "Gimana menurut kamu Dio keren kan Vi........nggak salah gue kejar-kejar dia selama ini", Via tersenyum membaca pesan WA teman karibnya itu dan segera membalasnya "Iya........gue percaya lo.......jagonya kalau untuk kejar cowok, siapa sih yang nggak percaya sama lo" tulis Via, dengan senyum yang selalu menyungging diwajahnya ia segera bangun dari tempat tidurnya dan segera membuka jendela kamar dan segera meregangkan kedua tangannya dan memejamkan mata sambil menghirup udara pagi yang segar.

Dari luar kamar sudah terdengar suara Mamanya (Dyah Ayu Wulandari) "Vi.......bangun udah jam 6.00 wib nih........ada kuliah tidak hari ini............." cerocos Mama Via dari luar kamar sambil mengetuk pintu kamarnya. "Ya.......Mama sayang...Via baru beresin tempat tidur nih........sebentar lagi pasti mandi". Via segera keluar kamar dan langsung menuju ke kamar mandi sambil membawa handuk dan beberapa peralatan mandi yang lain. Via terdengar beryanyi nyanyi kecil sambil menggosok gigi ketika Mamanya lagi-lagi mengingatkan kalau sudah di tunggu Papanya (Hermawan Djatmiko). "Via mandinya cepat dikit bisa nggak ya........Papa udah telat itu lho.........." kata Mamanya (Maklumlah kata-kata Mama Via jawa medok karena memang asalnya dari jawa). "Ya mama..........sebentar dikit lagi nih..........." sahut Via dari dalam kamar mandi.

Via keluar kamar sambil bawa tas dan masih sambil membetulkan baju yang belum ditalikan atasnya, ia hanya ambil roti bakar dan berlari ke depan garasi rumah karena Papanya udah ada di dalam mobil dan siap meluncur ke jalan raya Jakarta yang padat merayap. Via terlihat cium tangan Papanya ketika keluar mobil sambil berucap "Da..Papa hati-hati di jalan ya...........", Papa Via tersenyum dan segera meninggalkan Via di depan kampusnya. Dari jauh sudah terlihat dua teman karibnya menunggu di lobi kampus yaitu Fifi dan Mega, "Lama banget Vi.......udah lama banget gue nunggu disini, lupa ya kalau ada kuliah pagi" cerocos Fifi dan juga Mega, seperti biasa Via selalu tersenyum manis lalu menjawab "Sory guys..........gue agak lama di kamar mandinya karena perut sakit banget.........lagian lama baru berhenti he...........".

Mereka bertiga terlihat bersendau gurau menuju ke ruangan tempat dosen mereka terlihat masuk, beberapa saat kemudian semua mahasiswa di ruangan itu terlihat hening karena mereka tahu dosen hari ini mengadakan test yang pertama untuk mata kuliahnya. Semua mahasiswa terlihat serius dan tanpa suara, dan ketika waktu sudah menunjukkan jam 8.30 wib Dosen meminta semua mahasiswa segera mengumpulkan kerjaannya. "Gimana Vi........bisa nggak tadi" tanya Mega membuka pembicaraan ketika mereka keluar ruangan kuliah, "Ya..........menurut gue soal tadi lumayan........bisa sih" sahut Viia. "Sambil nunggu kuliah ke dua kita ke kantin dulu yuk..........soalnya nanti masuk baru jam 10.00 wib" ajak Fifi, Mega dan Via menganggukkan kepala bersamaan, lalu mereka menuju ke kantin.

"Fifi.....gue jadi penasaran sama Dio pacar baru lo........punya foto-fotonya yang lain kagak" tanya Via agak penasaran. Fifi membuka IPhone nya dan segera memperlihatkan foto pacarnya lewat Istagram Dio, kepala mereka bertiga kelihatan berhimpitan karena ingin melihat wajah Dio pacar Fifi lebih jelas. "Ih.......tajir bener pacar kamu Fi....itu rumah dan mobilnya ya........" kata Mega memuji Fifi, "Ya.........dia udah kerja, jadi manager disalah satu perusahaan bokapnya" sahut Fifi dengan bangganya. Dalam hati Via sebenarnya mengagumi juga sosok Dio ini, cakep dan benar-benar tajir tapi siapa tahu dia orangnya jahat, biasanya orang yang cakep dan tajir itu pasti melekat sombong dan jahatnya.

Mereka semua berpisah tatkala kuliah selesai dan harus pulang kerumah masing-masing, udah seperti biasa kalau pulang kampus Via pasti naik trans Jakarta, dalam perjalanan dia masih penasaran dengan gebetan Fifi yang satu ini karena Via ingat wajahnya hampir mirip bahkan persis aktor sinetron terkenal saat ini di televisi nasional. Siapa ya.......oh ya ingat aku sekarang, Dio wajahnya persis banget Stefen William kata Via dalam hati, udah ah ngapain mikirin pacar teman....biar Fifi yang emang sangat beruntung hidupnya, udah ganteng tajir lagi siapa sih cewek yang tak ngiler ingin dipinangnya.

Nggak terasa bus trans Jakarta yang ditumpangi Via sampai ke halte menuju ke dalam perumahan rumahnya yang cukup mewah yaitu kelapa gading. Ia pun manggil bapak ojek untuk mengantar sampai rumah, karena udah langganan bapak-bapak yang lumayan udah berumur langsung menyerahkan helm pada Via sambil bertanya "Mau langsung pulang kan non....................", Via menganggukkan kepala sambil tersenyum manis pada bapak-bapak itu. "Non...........hari ini kelihatan cantik banget pakai baju itu.............udah cantik, putih.......tajir nggak sombong, sopan seperti orang jawa saja..........." cerocos bapak tukang ojek, "Mama dan Papa aja dari jawa pak........ya pasti Via........diajari sopan santun sama orang tua.......bapak juga dari jawa" jawab Via

Wajah Via emang cantik, wajahnya agak lonjong, putih mulus dengan alis tebal, mata agak sedikit sipit tapi nggak terlalu sipit, hidung mancung, bibir tipis memerah, kalau tersenyum pipinya semakin menonjol dan memerah serta deretan gigi putih rapi di perlihatkannya dan ada satu gigi gingsul yang bikin dia terlihat manis, rambutnya lurus agak kemerahan sebahu bikin dia semakin cantik menawan. Kalau ingin lihat aktris seperti Nabilah JKT'48, ya.........ya mirip banget dengan Nabilah, makanya sampai bapak tukang ojek yang sering mengantar Via dari pangkalan trans menuju kerumah kagum udah cantik, kaya sopan lagi, gimana semua cowok tidak tergila-gila sama dia. Tapi kamu semua pasti enggak percaya kalau Via yang nama aslinya Viandra Ayu Wulandari ini belum punya pacar alias masih njomblo, karena memang didikan di keluarga Via, Mama dan Papanya selalu mengingatkan terus boleh pacaran kalau sudah kerja.

Malam itu seperti biasa Via malas malasan di tempat tidurnya sambil main WA dengan Fifi, baru asik-asiknya bales balesan pesan, Mama Via ternyata udah disampingnya. "Eh Mama...........ada apa mah tiba tiba kok udah disini" kata Via agak kaget melihat Mamanya, "Kamu di tunggu Papa di bawah...di ruang keluarga mau sedikit bicara sama kamu......." sahut Mamanya. "Ada apa sih mah........kok kelihatannya serius gitu...." sahut Via dengan menyelidik wajah Mamanya, "Ah.......udah sana, Mama nggak tahu.......apa yang mau diomongin Papa kamu........." kata Mama Via sambil beranjak menuju ke bawah yaitu dimana Papanya sedang menunggu. Via merapikan baju dan segera berlari menuju bawah yaitu ruang keluarga dan langsung duduk di sebelah Mamanya sambil bermain rambut Mamanya "Ada apa sih Pah........kok kelihatannya serius........." tanya Via sambil tiduran di pundak Mamanya.

Kelihatan Papa dan Mama Via saling berpandangan dan Papanya mulai berbicara "Via Mama udah pernah cerita sesuatu sama kamu belum...........misalkan pacar atau calon menantu.........", Via terlihat bingung dan mulai mengangkat kepalanya dari pundak Mamanya, "Pacar gimana sih pah..........calon menantu ?" tanya Via sambil lihat wajah Mama dan Papanya dengan nada bertanya. "Via....dulu banget ketika kamu masih umur 3 tahun, ada teman karib Papa yang main kesini, waktu itu kita masih sama-sama hidup serba kekurangan, maklum namanya merantau dari jawa" cerita Papa Via sambil sedikit menghela napas dalam dan mulai cerita lagi "kala itu teman Papa yang bernama Hendrata Wijaya juga punya anak yang usianya kira kira 5 tahun dan saat itu dia ingin sekali suatu besar nanti kita berdua bisa besanan atau menikahkan kamu sama anaknya yang bernama siapa Mah..........Papa sudah agak lupa" tanya Papa, "Ah..........siapa ya.......lupa aku, Fernando Hendrata Wijaya kelihatannya Pah.........." sahut Mamanya.

"Teman papa ini..........sukses dan punya banyak perusahaan di Jakarta dan salah satu perusahaannya papa pimpin.........beliau memang tidak pernah main ke rumah karena begitu sibuknya dan besuk malam minggu ia rela menyempatkan diri untuk main ke rumah sambil memperkenalkan anak satu-satunya ke kamu Via.....seperti janjinya waktu itu dan tadi siang Papa bel disurh datang ke kantor pusat hanya untuk ngobrol masalah itu........Papa secara manusia pasti senang dan bangga, tapi ingat Papa tidak bisa untuk menolak karena Papa bisa seperti ini karena kebaikan teman papa itu........." cerita Papa Via.

Via mulai menangis dan sedikit emosi karena Papa dan Mamanya masih seperti orang tua dulu yang senang menjodohkan anaknya. "Papa dan Mama sudah tidak sayang sama Via, masak zaman sekarang masih ada anak yang dijodohin sama orang tua " kata Via sambil terbata-bata dan langsung berlari ke atas menuju kamarnya dan menutupnya dengan kencang sampai kedua orang tuanya kaget dengan suara pintu kamar Via yang kencang "Jedoooor". Mama Via ikut menangis sambil merengek sama Papa Via "Gimana ini Pah........kita bisa walu sama pak Hendra.....Papa bisa bisa di pecat nanti", "Mama harus sabar dan bisa menenangkan Via ya..........." kata Papa sambil mengelus-elus rambut istrinya itu. Dalam kamar Via langsung merebahkan tubuhnya di kasur dan menangis terus sampai bantalnya penuh dengan air matanya, walau HP dan WAnya selalu bunyi tapi Via sudah tidak perduli karena ia baru meratapi nasibnya yang mungkin tidak menyenangkan karena dia mau dijodohkan sama lelaki yang bukan pilihannya dan dia sudah berpikiran negatif dulu, kalau cowok kaya pasti tidak baik kelakuannya dan sombong.

Ketika Via bangun ternyata sudah jam 1.0 wib dini hari ketika ia ambil Hp ternyata Fifi udah misscal 10 kali dan ketika ia lihat pesan yang ada di WA dari Fifi sudah panjang sekali "Via tolongin aku ya.............udah 2 minggu ini Dio mutusin aku dan dia udah tak mau lagi lihat dan bertemu sama aku, gara-garanya ya Si Rian wantan aku yang dulu selalu aja masih ingin ketemuan dan sialnya Dio tahu ketika pas kita pulang terakhir kuliah sebelum libur semester dulu, aku dan Rian ada di Cafe & Resto yang ada di dekat Senayan itu...aduh kacau deh........aku langsung diputusin Dio. Dia marah habis dan mengatakan sesuatu yang tak pantas padaku karena dia cerita baru kali ini dia pacaran dan aku kianati katanya" tulis Fifi di WA. Fifi kamu nggak tahu sih, aku juga sedih karena malam minggu besok harus menemui cowok yang tidak aku suka dan cintai dengan kedua orang tuannya lagi batin Via dalam hatinya sambil meneteskan air mata lagi. Daripada balas WA Fifi dan cerita kalau mau dijodohin orang tua, aku jadi malu mendingan nggak aku bel dan bales aja WA Fifi pikir Via dalam hati masih sambil menangis terus karena masih marah sama Papa dan Mamanya.

Paginya ketika sudah sekitar jam 10.00 wib, Mamanya mulai kuatir karena Via tidak kelihatan batang hidung di ruang keluarga, maka Mamanya mulai berjalan ke lantai atas menuju kamar Via. "Vi.........bangun itu Mama udah masakin kesukaan kamu.............ayo keluar sayang..........Mama boleh masuk kan sayang......." pinta Mamanya sambil berusaha membuka pintu ternyata pintu tidak dikunci Via, ketika melihat Mamanya masuk Via memalingkan wajah menuju ke tembok sambil buka-buka WA nya, tapi Mamanya dengan sabar duduk di sebelahnya sambil mengelus-elus rambutnya "Mama tahu perasaan kamu..............Mama dan Papa juga tahu kalau semua anak pasti tidak mau dijodohin..........seandainya bukan bos Papa kamu dimana Papa kamu tidak menjadi manager disitu...Mama dan Papa seperti kamu nak pemikirannya.......kamu harus tahu Via...pak Hendra walau sudah kaya raya orangnya tidak sombong, begitu juga istrinya dan anaknya.Kamu bisa tanya Papa yang hampir setiap hari bertemu dengan keluarga itu.........Mama tidak memaksa kamu yang penting Via mau menemui keluarga Pak Hendra dengan sopan Mama sudah seneng" cerita Mamanya.

"Tapi Mama janji ya.........kalau Via tidak cocok jangan dipaksa ya..........." sahut Via, "Ya.......mama pasti janji, masak sama anak satu-satunya bohong.......gimana nanti kalau ada apa apa dengan kamu sayang" sahut Mamanya. Dan malam minggu itu Via memang tidak terlalu berdandan walau Mamanya sudah mengingatkan terus, karena dia berpikir untuk apa berdandan sama orang yang tidak ia cintai walau memang dia masih jomblo pikir Via dalam hatinya. Eh bener juga apa yang di katakan Papanya tepat jam 19.30 wib malam itu ada mobil mewah yang datang dan berhenti di depan rumah Via, sopir keluar untuk membukakan mobil dan ada laki setengah tua turun dan selanjutnya ibu setengah baya yang masih cantik turun...Via masih mengamati dari celah tabir jendela di kamar lantai atas, Via hatinya sedikit bergetar ketika melihat sesosok cowok keluar dari dalam mobil mewah itu hanya dengan pakai keweja lengan pendek santai dan jean, tidak terlalu berotot dan kelihatannya keren, Via sedikit penasaran ingin tahu seperti apa kira-kira wajah cowok itu, gateng apa kagak.

"Via.......ayo turun ini lho tamunya sudah datang.........." panggil Mamanya dari ruang keluarga, "Iya ..Ma sebentar lagi Via turun" jawab Via. Via mulai turun dari lantai dua menuju ruang keluarga dan terlihat disitu Mamanya sudah tersenyum manis dan mulai berbisik "ternyata anak Pak Hendra ganteng banget Vi.......", berjalanlah Mama Via menuju ruang tamu dan di ikuti Via di belakangnya, Pak Hendra dan Bu Hendra tak berkedip ketika melihat Via menuju ruang tamu, "Ayo sana cium tangan sama tamu kita......." pinta Mama, maka Via dengan permisi menuju Pak Hendra dan Bu Hendra untuk cium tangan dan langsung duduk di sebelah Mamanya tanpa berani melihat cowok yang ada di depannya. Bu Hendra celetuk "Papa coba lihat calon menantu kita ternyata cantiiik dan sopan lagi", "Eh.....mama jangan gitu, emangnya mau kita jodohin dengan Dio anak kita" sahut Papa Dio, Semua ruangan menjadi tersenyum dan saling tertawa membuat suasana yang awalnya sedikit tegang menjadi melunak. Ketika Via dengar nama Dio dengan sepontan Via langsung melihat ke wajah Cowok yang ada sedikit jauh darinya, Via hampir saja terperanjat dan berteriak kaget kalau tidak didepan banyak orang, Gimana tak kaget dan heran bercampur aduk karena yang didepannya ternyata Dio mantan pacar Fifi temen super dekatnya yang pernah dilihatkan Fifi di Istagram.

Via jadi bingung dan nggak tahu harus gimana, karena yang ada didepan dia ternyata Dio yang super cakep dan tajir yang diceritakan oleh Fifi, dalam hatinya berkecamuk pertentangan antara suka, benci, marah, senang jadi satu dan Via sedikit mengalihkan pandangan sama Dio karena cowok itu memperhatikan tingkah polahnya yang membuat Via jadi sedikit grogi dibuatnya. Dalam hati Via ingin sekali lebih jelas melihat wajah tampan Dio tetapi dia tak punya keberanian untuk mengarahkan wajahnya menuju cowok itu dan ketika wajahnya sedikit mengarah ke cowok itu, Via seperti terhinoptis karena dia tak mampu menahan senyum ketika cowok itu memberi senyuman manis kepadanya. "Papa nggak lihat kan..........dari tadi Mama perhatikan mereka berdua kelihatannya saling menyukai lho........", "walah Ma...Ma...kaya tidak pernah muda aja....ya biarin dong mereka saling pandang memandang dulu". Semua yang ada diruang itu dibuat ger semuanya membikin Via semakin tambah grogi dibuatnya. "Oh ya pak Jatmiko....karena saya masih ada acara malam ini dan si Dio sudah tahu rumah Via.......biar Dio bisa main beberapa kali kesini dan nanti dua minggu lagi kita tentukan tanggal lamaran dan pernikahan anak kita berdua" kata Papa Dio, dan keluarga Dio langsung pamitan untuk pulang, ketika mau masuk mobil Dio melambaikan tangan sama Via dan Via dengan sedikit malu membalas dengan sedikit sembunyi debelakang tubuh Mamanya.

Setelah keluarga Dio pergi dan mereka sudah kembali ke ruang tamu maka Mama Via mulai bertanya sama anaknya "Via menurut kamu cocok nggak pilihan kamu atau sudah sesuai selera kamu tidak Dio", "Maksud Mama..........." sahut Via sambil mngeryitkan jidatnya, "Maksud Mama, kamu setuju nggak dengan penrjodohan ini Via........" sahut Papanya, "Mama sama Papa gimana sih.........kan Dio belum main kesini sendirian dan lagi aku belum kenal watak dan kelakuannya, bisa aja ternyata dia orangnya sombong" sahut Via malu-malu sambil naik ke lantai 2 menuju ke kamarnya. "Via.....bekas minum dan kue belum diberesi kok udah naik ke kamarnya...bantu Mama gitu" pinta Mamanya sambil mengomel. Di dalam kamar pikiran Via menjadi buntu, karena sudah nggak bisa berpikir lagi mau bilang apa, kalau nantinya dia ternyata cocok sama Dio, nggak enak sama Fifi temen karibnya tetapi kalau menolak kok bego banget karena Dio cakep dan tajir apalagi bila emang dia tidak sombong seperti cerita papanya, kelihatannya sih keluarga ini baik dan tidak sombong menurut penglihatan Via ketika mereka main ke rumah dan sopan sekali karena memang ternyata sama-sama dari jawa. Semalaman Via tidurnya tidak jenak dan selalu gelisah gara-gara memikirkan sesuatu yang mungkin akan menimpa dirinya, makanya bangunnya agak siang, ya lagian dia kan masih liburan semester. Jam sepuluh pagi dia baru keluar dari kamar dan langsung mengambil handuk untuk mandi, ketika sudah ganti baju santai di rumah, Via menuju meja makan, mengambil roti tawar dan apel langsung menuju taman depan rumahnya yang cukup luas sambil membawa majalah khusus cewek yang cukup terkenal.

Via ternyata ketiduran di bungalo taman depan rumah, ketika bangun lihat jam ternyata sudah pukul 14.00 wib, dia mulai mau berjalan menuju ke dalam rumah baru aja beberapa langkah ada sebuah mobil mewah parkir di depan rumah dan beberapa saat kemudian ternyata Dio yang keluar, Via menjadi panik mau lari ke dalam rumah sudah terlihat Dio, tidak lari dia masih pakai baju rumah yang sedikit minim walau masih sopan. Dengan jantung yang sedikit berdegup dan grogi dia berlari-lari kecil menuju gerbang untuk membukakan pintu Dio sambil tersenyum manis "Hay.........mau main" tanya Via, Dio tersenyum sambil melangkahkan kaki menuju ke dalam depan rumah Via. "Ayo masuk aja ke dalam.............." ajak Via, "Via di taman aja aku ingin kita rilek ngobrol disana " pinta Dio sambil tanganya menujuk ke bungalo, "aku ganti baju dulu ya........." pinta Via, "Ah..........gitu aja..........santai aja.......emangnya mau menemui siapa....aku senang kamu seperti ini" sahut Dio. Mereka berdua mulai duduk duduk di bungalo depan rumah Via, beberapa saat mereka hanya saling pandang dan tersenyum dan Dio mulai membuka percakapan "Eh..Via masih libur semester ya...kok santai santai dirumah aja", sambil menyelakan rambut yang selalu menutupi wajah, Via menjawab "Ya ..nih masih agak lama liburan semesternya". Via mulai berani tanya sama Dio, "Kok jam segini bisa mampir sini, apa nggak kerja Dio..." tanya Via, "Tadi aku harus ketemu relasi bisnis di sekitar sini sekalian mampir...Via sibuk nggak atau ada acara sama temen ?" tanya Dio, Via cuma mengelengkan kepala sambil matanya bertanya sama Dio, "Ehm..mau nggak kalau nemenin aku makan siang diluar ?" jelas Dio.

Via menganggukkan kepala sambil ijin untuk ganti baju "Aku ganti baju dulu ya, mosok pakai seperti ini", Dio cuma manggut manggut sambil terus memperhatikan wajah Via yang memang rupawan itu, dari dalam rumah Mama Via memperhatikan sambil tersenyum sendiri melihat putrinya yang salah tingkah dan mungkin sedang jatuh cinta walau Via sendiri mungkin kurang tahu. Setelah ganti baju yang keren dan gosok gigi dan minum cairan pembersih mulut berulang-ulang Via langsung turun dan menuju ke bungalo dimana Dio menunggu, ketika Via datang mata Dio nggak bisa lepas dari tubuh dan wajah jelita Via, mata Dio yang sedikit nakal menyelidik keseluruh lekuk tubuh dan wajah Via, Via menjadi nggak percaya diri dan melihat ke arah tubuhnya sendiri mungkin ada sesuatu yang salah, "Kenapa sih Dio, kamu melihat kamu seperti itu.............." tanya Via, Dio tersenyum tetap memandang wajah Via yang semakin dekat tanpa lepas membuat jantung Via seakan berhenti saja, "Kamu cantiiiiiik ...." kata Dio pelan, membuat pipi dan seluruh wajah Via merona menambah Dio semakin senang memandanginya, "Ayo jadi nggak malah kamu lihatin terus aku, bikin grogi aja " pinta Via sama Dio sambil beranjak untuk menuju regol pagar dan keluar di jalan karena mobil Dio berada disana. Setelah membuka pintu mobil dengan remotnya Dio segera membukakan pintu untuk Via dan meluncurlah mobil mewah Dio ke jalan Jakarta yang serba macet.

Sampai di Cafe & Resto yang sepi dan sedikit remang-remang yang kelihatan exlusive, Dio mengajak Via masuk dan menikmati hari pertama gimana mereka saling menyesuaikan diri. Ketika pelayan datang memberi menu makanan dan minuman, mata Via melihat kesana kemari dalam hati dia berkata, tempat ini pasti berkelas banget, hanya Eksekutif muda yang kelihatan dan mereka memakai pakaian yang rapi dan exlusive banget. "Via mau pesan apa nih tunggu mbaknya pelayan..." tanya Dio, memudarkan lamunan Via, "Ehm..aku sama persis kamu aja ya..........." sahut Via. Lalu pelayannya pergi sambil membukuk dihadapan mereka berdua "Ih...Dio hanya pandang aku seperti itu...aku jadi salah tingkah" pinta Via sama Dio yang terus melihat paras wajah Via yang memang menawan, sambil tersenyum Dio mulai ngomong "Via aku ulangi lagi ya kata-kataku yang tadi kamu cantiiiiik....sepertinya aku sudah pernah lihat wajah kamu lama sekali...tapi aku nggak tahu kenapa....padahal sama sekali kita nggak pernah bertemu....cerita Mama Papa, dulu waktu masih umur 5 tahun keluarga Papa sudah pernah ke rumah kamu" cerita Dio, "Aneh ya........kenapa aku sepertinya sudah kenal lama sama kamu dan kayaknya ada sesuatu yang aneh di perasaan aku..apa aku jatuh cinta" guman Dio dalam hatinya, Pelayanan mengantar pesanan dan berdiri di samping mereka dan bertanya "ada yang bisa saya bantu lagi tuan", Dio tersenyum sama dua pelayan cowok dan cewek yang pakai seragam Cafe & Resto itu sambil bilang "Trimakasih kamu bisa pergi", kedua orang itu menunduk dan mulai meninggalkan mereka berdua. 

"Dio...aku boleh bertanya sama kamu ?" tanya Via (karena dia mulai takut rasa suka yang begitu dalam sudah mulai muncul didalam hatinya), Dio memandang Via serius sambil menganggukkan kepala "Tanya aja nggak usah sungkan....aku bukan bos dan aku didik sopan santun jawa yang serius oleh Mama Papa", "Ehm...tapi janji ya....kamu jangan marah kalau nanti mungkin menyingung perasaan kamu, Dio aku ingin kamu jawab jujur walau kamu memang belum jadi suami aku...benar tidak kalau kamu pernah pacaran sama Fifi" tanya Via, lama sekali Dio memandang wajah Via tajam dan dia mulai cerita "Suatu hari aku diajak teman-teman sma dulu untuk reuni dan salah satu teman aku cewek punya adik yang singkat cerita pingin banget kenal sama aku, teruuus...cewek itu minta WA dan aku jujur sama kamu bahwa baru pertama kali itu aku dekat sama cewek, sebenarnya aku sedikit sedikit mulai suka sama cewek itu walau sebenarnya tidak type yang aku inginkan, mungkin kamu sudah tahu Fifi anaknya gimana, kita baru dekat mungkin 3 bulan...aku cepat-cepat temui dia dan bilang putus ketika salah satu anak buahku bilang kalau Fifi sering jalan sama cowok lain...awalnya aku tak percaya tapi, anak buahku ini melihatkan foto kemesraan Fifi dengan cowok itu di sebuah Cafe & Resto yang aku sangat kenal. Aku ajak jalan ke sebuah Cafe dan aku putusin disitu, dia menangis terus, aku tinggalin uang di meja dan aku langsung cabut dari tempat itu dan tak pernah bertemu sampai sekarang" 

"Aku belum kenal lama sama kamu Via, tapi aku pikir aku jujur, aku suka sama kamu...aku sendiri nggak tahu entah kenapa bisa seperti itu, apa kamu ingin tanya lagi sama aku..." kata Dio, Via diam sambil memandang Dio dan mulai cerita "Dio aku akan jujur sama kamu...tapi jangan di tertawai ya.........ketika Mama dan Papa malam itu memanggil aku dan cerita kalau aku mau di jodohin dengan orang yang belum aku kenal, aku lari ke lantai atas...langsung menuju kamar dan menangis sampai pagi karena sakit, emosi...pokoknya nggak suka walau aku sampai saat ini belum pernah jatuh cinta apalagi pacaran, tapi ketika malam minggu lalu kamu datang dengan Papa dan Mama kamu, jantung aku berdegup kencang dan mau pingsan...ternyata kamu, Dio yang dilihatkan Fifi di dalam Iphone nya, Dio kamu tahu enggak Fifi siapa ?" tanya Via, Dio menggelengkan kepala sambil diam, "Dia teman karib aku dari sma dulu...............aku jadi nggak enak sama Fifi Dio...dikiranya aku merebut kamu dari sisinya" kata Via. Dio tersenyum sambil memegang kedua jari tangan Via diatas meja "Via...Fifi putus karena ulahnya sendiri dan itu tidak ada sangkut pautnya dengan apa yang dimaui kedua orang tua kita, aku saja jumat kemarin baru di kabari Papa dan Mama kalau mau diajak main ke anak kenalannya waktu masih miskin dulu" cerita Dio

"Via...aku nggak setuju sama Papa dan Mama..." kata Dio (Via dalam hatinya sudah berpikir kalau Dio pasti tidak mau dengan perjodohan ini, membuat jatungnya mulai berdegup kencang karena dia sudah merasa cocok dengan Dio), "Maksud Dio apa ?, perjodohan ini kan ?" tanya Via, "Via...aku nggak setuju kemarin Papa bilang sama keluarga kamu nunggu 2 minggu untuk menentukan tanggal lamaran dan pernikahan, aku ingin Papa main ke rumah kamu sabtu depan saja..." kata Dio. Cinta memang tak tahu datang maupun perginya, cinta bagai biji bunga matahari yang selalu tidak menentu jatuhnya, bisa di petik orang kala muda, bisa di makan serangga, bisa jatuh sendiri ke tanah dan bisa dituai orang untuk dijadikan benih kembali itulah cinta. Selama perjalanan pulang didalam mobil Via selalu mencubit lengan Dio yang selalu menggodanya sampai-sampai Dio salah ambil jalur keluar tol untuk menuju rumah Via dan harus berputar yang cukup jauh. "Via kita berputar-putar di tol sampai pagi juga aku mau...kalau kamu temenin" kata Dio sambil mengoda Via, "Ih....kak Dio ada ada aja, mosok mau berputar terus di tol sampai pagi memang kagak kantuk kali " sahut Via dengan manja. Sampai depan rumah Via sudah pukul 19. 30 wib, mobil dimatikan dan segera Dio turun untuk membukakan pintu Via dan mereka berdua mulai berjalan berdampingan menuju rumah untuk bertemu dengan Mama Via, "Oh...nak Dio.........masuk sini masuk langsung kedalam saja" ajak Mama Via, Dio segera menuju Mama Via dan segera mencium tangannya "Trimakasih tante...kapan-kapan saja, lagian Via pasti lelah dari siang aku ajak keluar sampai malem" kata Dio, Via memberi isyarat pada Dio bahwa apa benar Dio mau pulang segera, Dio menganggukkan kepala sama Via, dan Via langsung berjalan menemani Dio yang mulai menuju depan rumah yang cukup luas.

Via memang tak bisa mengelak kalau dia ternyata sangat suka sama Dio, tapi karena dia cewek jadi dia berusaha keras untuk menahan gejolak cinta itu. "Bener nih....Dio mau pulang, kagak ngobrol dulu di bungalo taman" cegah Via, Dio tersenyum manis sambil berjalan bersama Via menuju ke taman. Mereka terlihat asik ngobrol kadang-kadang sampai tertawa-tawa dan Via terlihat sesekali mencubit Dio dengan manja, begitu indahnya cinta membuat mereka lupa akan semuanya, tatapan mata, hati, pikiran mereka berdua sudah dikuasai dewa dan dewi cinta yang keduanya menampilkan aroma dan bunga bunga yang menawan ketika hembusan nafas mereka berdua terasa di rambut-rambut halus tubuh mereka, maka udara itu akan masuk dalam jantung lalu di olah dan di hembuskan ke dalam darah dan sampailah ke otak yang muncul adalah gambar dan aroma cinta yang menawan yang membuat mereka tanpa sadar saling merengkuhkan tangannya ke tubuh pasangannya dan mulai tanpa mereka sadari saling menyentuhkan kulit pada hidung dan pipi, membuat mereka merasa bagai terbang berdua ke awan yang ditumbuhi berbagai jenis bunga seluruh bumi, nafas semakin terasa panas mereka berdua rasakan membuat bibir mereka berdua tanpa sadar saling menaut dan saling bergantian merasakan kedamaian yang luar biasa belum pernah mereka rasakan berdua, kedua tangan Dio tanpa sadar mulai meraba raba dada Via yang lumayan mengunung yang cukup membuat cowok suka, dan tangannya selalu meremas membuat Via sedikit mengerakkan badannya karena ia merasa semakin nyaman berada di awan yang sungguh indah.

Dio dan Via sudah tak ingat lagi kalau dia di bungalo taman depan rumah dan pasti beberapa jam atau menit atau detik Papa Via segera datang dan ketika suara alarm mobil Papa Via terdengar mereka berdua, Via dan Dio baru sadar kalau mereka berdua masih ada di bumi. Dio segera menghampiri Papa Via dan mencium tangannya. "Ayo...masuk, atau mau pulang Dio" tanya Papa Via, "Ehm...sebentar lagi mau pulang om" jawab Dio, "Ok deh...Papa masuk dulu ya" kata Papa Via, Dio lihat Via dan segera pamit untuk pulang dulu sambil tak lupa dengan cepat pegang kedua tangan Via dan langsung cium pipi kanan dan kiri dan sedikit berlari meninggalkan Via yang bengong karena tak tahu kalau Dio nakal banget. Ketika mobil Dio sudah hilang dari pengamatannya, Via terlihat lari-lari kecil menuju rumah sambil bernyanyi-nyanyi kecil, ketika Papa dan Mamanya melihat tingkah polah anak satu-satunya mereka berdua kompak "Cie...........cie baru jatuh cinta nih ye.........", bikin Via yang lewat di depannya jadi malu dan sedikit sewot "Ih...Mama Papah apaan sih...kaya anak kecil saja...aku nggak suka" kata Via jengkel sambil sewot langsung menuju lantai dua dan masuk ke kamarnya. Karena hampir seharian jalan sama Dio, Via sedikit lelah dan baru bangun ketika Hp dia bunyi ada bel masuk, Via penasaran karena yang muncul Indoneesia dan bukan nama orang. "Halo...siapa ya ini.." tanya Via, "Halo...Via sayang lagi apa....aku baru nyampai rumah soalnya seperti biasa jalannya macet dimana-mana...harus sabar untuk sampai rumah" jawab orang diseberang. "Dio kan ini ?", "Iya tuan putri yang cantiiiik ini Dio...." jawab Dio.

Via segera bangun sambil menuju kaca rias dan mulai duduk di kursi yang ada di depan kaca riasnya, "Mau cerita nggak kamu lagi ngapain sekarang soalnya aku udah kangen nih Via, kalau aku nggak malu sama Mama dan Papa kamu aku pasti masih disana sampai malam mungkin sampai pagi" rengek Dio dari seberang. "Dio kenapa nggak berani tadi main sampai larut malam kalau bisa malah nginap di rumah, kita kan dijodohin, main disini nggak pulang saja kamu nggak bakal dimarahi sama ortu aku " goda Via sambil tertawa tawa. "Via kenapa kamu nggak bilang tadi, aku udah sampai rumah baru berani cerita " kata Dio mengoda ceweknya itu. Hampir semalaman mereka berdua ngobrol lewat Telpon mapun WA sesekali dari dalam kamar terdengar suara tawa yang ceria, membuat kedua orang tuanya menjadi bahagia karena ternyata mereka berdua saling suka dan terlihat sekali bunga-bunga cinta tumbuh di hati mereka berdua seperti romeo and yuliet saja.
 Hampir semalaman mereka berdua ngobrol lewat Telpon mapun WA sesekali dari dalam kamar terdengar suara tawa yang ceria, membuat kedua orang tuanya menjadi bahagia karena ternyata mereka berdua saling suka dan terlihat sekali bunga-bunga cinta tum...
Singkat cerita mereka berdua sudah melakukan akad nikah dan melaksanakan pesta resepsi perkawinan mereka berdua. Banyak sekali tamu yang hadir dari kedua mempelai dan terlihat Via semakin cantik dengan baju kebaya yang exlusive begitu pula dengan Dio yang terlihat gagah dan semakin ganteng. Begitu melelahkan hari bahagia itu bagi Dio dan Via karena harus tersenyum dan bersalaman hampir seharian dan ketika resepsi sudah selesai dan Dio dan Via pulang ke rumah baru mereka, karena Dio ternyata sudah punya rumah yang gede dan mewah dengan perabotan di dalamnya serba wah dan modern hanya untuk Via seorang. "Dio...ada pesan WA dari Fifi..........ia mau datang memberi selamat sama kita, kasih alamat rumah kita nggak...." kata Vio sambil menunjukkan WA nya, "Up to you Via..........." kata Dio, lalu terlihat Via membalas pesan WA dari Fifi teman karibnya. Ternyata setelah beberapa menit berlalu terlihat ada mobil di parkir depan rumah Dio dan ketika keluar Via baru tahu kalau orang yang keluar dari mobil adalah Fifi teman karibnya dengan Rian yang berjalan menuju gerbang rumah mereka. Maka Via agak berlari-lari kecil membagikan teman karibnya itu lalu mereka saling cium pipi kanan dan kiri lalu Via memperkenalkan Rian dan Dio dan mereka sudah terlihat asik ngobrol. Via mengajak Fifi untuk ngobrol di teras belakang karena disana ada taman yang cukup luas dan kolam renang di tengahnya yang cukup luas.
Beberapa saat kemudian terlihat mereka berdua sudah asik mengobrol "Selamat ya Vi...kamu sudah menikah dan resmi sebagai istri sah Dio.............." ucap Fifi sambil mencium temannya itu, 'Makasih Fi...kamu sudah menyempatkan diri untuk bisa ikut hadir pada pernikahan kami malau di rumah " balas Via sambil mencium balik pada temannya itu. "Resepsinya ramai dan di hotel bintang lima ya Vi...soalnya orang tua Dio termasuk taipan di Indonesia...pasti undangannya para pejabat dan pengusaha semua ya" tanya Fifi, "Ya gitu deh...ramai dan aku pikir undangannya dari teman papa mama dan teman papa mama Dio aja...soalnya yang aku tahu Papanya Dio orangnya sederhana hidupnya" cerita Via. Terlihat mereka berdua agak lama sama-sama terdiam, mungkin juga Fifi agak tidak suka dengan jawaban dari teman karibnya itu. "Via...aku mau minta ijin sama kamu boleh tidak kalau aku menyimpan foto ini..." kata Fifi sambil memperlihatkan Iphone yang ada di tangannya pada Via, wajah Via terlihat agak berubah dan sedikit cemberut tidak suka, ternyata foto yang dilihatkan Fifi adalah foto mesra antara Fifi dan Dio di suatu tempat entah dimana Via tidak tahu. Setelah menguasai keadaan Via mulai bicara "Kalau aku tak masalah Fi...demi Tuhan aku nggak mempermasalahkan, tapi untuk apa kamu simpan foto itu, Dio kan sudah resmi jadi suami aku" cetus Via.
"Makanya aku ijin sama kamu Via....boleh nggak, soalnya sebenarnya aku masih sayang sama dia, masalahnya dulu Dio pernah aku ke puncak di salah satu hotelnya, kamu sudah pernah di ajak kesana belum? dia hebat banget pokoknya aku sampai berdebar-debar dan serasa melayang dibuatnya....gimana tidak di hotel berbintang lima di puncak" cerocos, Via kelihatannya tersenyum senyum mendengarkan cerita Fifi tapi dalam hatinya dia ingin segera berlari dan memanggil keras-keras Duo untuk dimaki-maki. Tapi ternyata di depan Fifi, istri Dio ini bisa menahan emosi dengan baik dan mulai menangkal cerita Fifi dengan baik "Fifi...saya kira semua lelaki seperti itu dimasa belum menikah...tetapi saya percaya Dio anak yang baik dan dari keluarga baik-baik, kalau dia dapat istri baik pasti akan lebih baik dari saat ini...masa lalu semua orang mengalami dan tak perlu dibuka kembali". Fifi terlihat tersenyum kecut dalam hatinya meradang kurang ajar teman karib aku satu ini ternyata dia tak mempan aku bakar hati dan perasaannya, padahal aku sebenarnya sakit, sudah diputusin Dio dengan kasar dan yang paling parah ternyata teman karibku yang nikah sama si Dio. "Via...udah sore aku pamit dulu ya...semoga bahagia dan...aku minta maaf karena masih mau menyimpan foto itu.." kata Fifi sambil beranjak dari kursi taman menuju ke arah Via dan segera menciumnya lalu mereka berdua menuju ruang tama untuk menemui Dio yang Rian yang masih terlihat asik ngobrol. "Selamat ya Dio...semoga bisa langgeng sampai nenek kakek dan hanya ajal yang memisahkan kalian berdua..." kata Fifi sambil mencium dan bersalaman dengan Dio, lalu mereka berdua segera meninggalkan rumah Via.
Via tanpa bicara sama suaminya (Dio) langsung menuju lantai dua dimana kamarnya berada dan menutup pintu agak keras, membuat Dio heran melihat perubahan tingkah laku istri barunya itu, lalu Dio melangkah menuju ke atas dan langsung masuk ke kamar istrinya, "Sayang ada apa...kok sepertinya marah....aku jadi sedikit curiga...kenapa setelah Fifi pulang kamu jadi marah, sudah aku cerita Fifi itu tidak anak yang baik...aku akan telpon atau kerumahnya saja kurang ajar anak itu, kalau kamu memang boleh mau aku penjarakan saja dia" kata Dio, sambil menangis Via bicara terbata-bata "Stop..............stop tidak usah kamu melakukan apapun juga Dio...kok aku tahu kamu telpon, kirim pesan, kerumahnya atau lapor polisi...aku akan pulang ke rumah Papa dan tak mau lagi kamu ajak kesini lagi, aku baru marah pada diriku sendiri dan aku minta kamu tak mendekat dulu, aku baru ingin sendiri" kata Via sambil menutupi wajahnya dengan bantal. Dari pada berantem hebat Dio berusaha menahan diri dan mulai terlihat turun dari ruang atas menuju ke teras belakang lalu berjalan mengitari kolam renang yang airnya terlihat biru bersih karena memang masih baru. Malam pertama yang ditunggu-tunggu para pengantin, malam itu gagal untuk Dio dan Via, karena ketika malam tiba dan Dio ketok ketok ke kamar Via tidak ada jawaban dan kamar terkunci walau Dio sudah merengek-rengek minta masuk dengan berbagai alasan seperti anak kecil.
Hari kedua Via sudah mau buka pintu dan terlihat menyiapkan makan dan minum untuk Dio tapi ketika Dio mendekat ingin ngobrol atau menyayang Via selalu berusaha menghindar dan membisu sehingga membuat Dio semakin bingung saja. Sorenya ketika Via berenang di kolam dan Dio baru bangun dan lihat, ketika ingin bergabung, Via sudah cepat-cepat keluar dari kolam dan langsung menuju ke kamar mandi untuk segera ganti baju. Dio sampai judeg dibuatnya dan akhirnya dia mencoba nulis di WA istrinya itu "Sayang...kenapa sih kamu marah dan semot di hari yang harusnya kita menikmati dengan bahagia...aku sudah pingin banget nikmati malam ke tiga he........." tulis Dio, lama sekali Dio tunggu tak ada balasan, tapi setelah 15 menit berlalu HP Dio bunyi teng.............teng..............Dio tak sabar untuk membukanya, Dio benar-benar kecewa ternyata WA dari teman sma dulu, tanya malam pertama lagi "Gimana coe...malam pertamanya asik dan enakkan.....xixixixixixi", Dio cuma bisa tertawa kecut dan ketika dia baru membalas pesan WA teman ternyata ada pesan WA yang masuk lagi, Dio tak jadi melanjutkan membalas pesan temannya karena ternyata pesan yang masuk dari VIa "Nggak usah merengek minta ini itu...kaya anak sd yang masih umbelen aja...sana minta sama Fifi yang udah kamu gituin di hotel puncak milikmu itu....", ehm Fifi tak bisa di biarkan seenaknya sendiri memfitnah orang pikir Dio dalam hati, tapi kalau ketahuan Via bisa bisa dia tidak mau ke rumah ini lagi nanti.
"Via...sumpah demi Tuhan aku belum pernah melakukan hubungan intim dengan siapapun juga, walau kamu tak percaya tak apa, yang penting yang Maha Kuasa yang tahu....Fifi pernah minta...sekali lagi aku tulis minta diajak ke puncak..dan itu aja hanya jalan dan makan tidak sampai menginap disana" tulis Dio, Via sebenarnya lebih yakin pada Dio dari pada sama sahabat karibnya itu tetapi Via berpikir kalau Dio harus diberi pelajaran biar nantinya nggak akan berani macam-macam. "Kamu kira mudah membujuk aku untuk lebih percaya pada kamu dari pada Fifi sahabatku...tunjukkan usaha kamu yang keras dan tegas biar aku takluk berlutut di kaki kamu...dan aku akan melayani apapun yang kamu inginkan, jangan cuma merengek seperti anak kecil tapi ingat jangan sampai kamu sentuh sedikitpun Fifi, aku malu dan jijik mendengarnya..." balas Via. Setelah membaca pesan Via, Dio segera membalas pesan temannya dan minta saran "Malam pertama enak gimana coi...istriku baru ngambek gara-gara Fifi yang dulu pernah pacaran sama aku bikin ulah, kepala jadi pucing bro..tolong beri saran gimana biar aku bisa menikmati keperawanan Via secepatnya". Ternyata temannya langsung membalas "Kaciman lho coi xixixi....tertunda ya belah duriannya...kalau saran gue nih simak baik-baik..coba cara sedikit agak memaksa dan brutal...maksudnya kamu ke kamarnya dulu sembunyi ketika keluar kek...atau pegang dari belakang dan sedikit memaksa dengan mengikat tangan dan kakinya gitu dan bopong ke kamar kamu, atau kejar sampai dapat ketika baru renang, dia mau minta tolong, mau nendang-nendang tidak ada yang mau nolong semua tetangga sampai pak rt sudah tahu kalau kamu pengantin baru..........ah banyak cara bro...............lho emang dari sma dulu cemen ...xixixixixi semoga berhasil, aku tunggu kabarnya" balas temannya.
Dio mulai merenung, betul juga usulan teman aku itu xixixi emang bego banget kali aku, maka sore itu ketika Via seperti biasa renang, Dio selalu mengamati dari kejahuan dan ketika sudah selesai renang Via biasanya berjalan lewat lorong untuk menuju kamar mandi, Dio sudah menyiapkan penutup mata, penutup mulut dan pengikat dari kain di dalam sakunya, dia berjinjit mendekati Via dari belakang lalu menutupkan sesuatu di hidungnya dan terlihat beberapa saat kemudian Via terlihat pingsan, Dio agak kikuk ketika handuk yang menutupi tubuh istrinya yang cuma pakai baju renang ketat yang menempel ditubuh istrinya yang cukup berisi itu. Dia segera membawa ke dalam kamar dan segera menutup mata, mengikat tangan dan kedua kaki dan istrinya ke tempat tidur dan segera melepas penyumbat yang ada di mulut istrinya dan menunggu sampai siuman. Ketika menunggu istrinya siuman Dio dengan leluasa menikmati wajah cantik dan tubuh putih mulus istrinya tercinta yang sampai saat ini belum tersentuhnya. Via memang cantik luar biasa..ehm bibirnya yang tipis memerah bikin aku penasaran saja ketika pengamatannya agak ke bawah Dio menemukan bukit dua yang cukup membuat dia bangga memilikinya, ketika semakin ke bawah ia melihat dari kaki sampai pangkalnya tak ada goresan sedikitpun, Dio sedikit gugup ketika Via sadar dan langsung mulutnya teriak minta tolong, dia segera memakai pelingdung mulut dan mulai menutup mulut Via sambil membentak "Diam...atau kamu ingin mati, suami kamu udah aku ikat juga di bawah sini" kata Dio dan mulai membuka bekap mulutnya, "Jangan...jangan...dibunuh istri saya pak tolong....." kata Dio sambil tersenyum, lalu ia memakai penutup mulut lagi, "Kamu ingin melihat dengan mata kepala kamu...istri kamu aku perkosa disini atau kamu tunjukkan brangkas uang dan emas berlian kamu..." kata Dio sambil senyum, penutup mulut di buka lagi dan dia segera bicara "Ampun pak...ampun aku tunjukkan brangkasnya saja....ayo aku tunjukkan tempatnya" kata Dio, Dio pura-pura keluar kamar dengan suara kaki yang agak di pukul-pukulkan dengan lantai dan beberapa saat kemudian ia segera kembali ke kamar menemui istrinya.
"Via...kamu tidak kenapa kenapan kan...aduh udah diperkosa belum " tanya Dio dengan tergopoh-gopoh menuju Via yang masih terikat di tempat tidurnya dengan mata tertutup. "Dio...kamu baik-baik aja kan...trimakasih Tuhan kita masih selamat tidak dibunuh dan aku belum di perkosa sama perampok itu. "Tolong buka ini penutup mata, tangan dan kaki aku dari ikatan perampok tadi...cepat Dio" rintih dan pinta Via, "Kalau begini kamu baru minta tolong...beberapa hari aku yang tidak salah apa-apa kamu suruh tidur di kamar lain padahal kita suami istri sah dan masih baru lagi...kamu harus janji mau melayani apapun yang aku inginkan seperti di WA kamu...dan kamu harus bersumpah dulu kalau kamu tidak bohong " gimana Via, "Kalau itu aku nggak bisa bersumpah...kaya gini masih ingat yang itu...kaya anak kecil aja" jawab Via, Dio sudah tak sabar untuk menikmati malam pertamanya yang selalu gagal total maka dia segera menghampiri istrinya yang tangan dan kakinya terikat di tempat tidur dan segera mendekatkan bibirnya dan segera melumat bibir Via yang semakin lama semakin terlihat menantang, Dio sudah tak mau mendengarkan suara Via yang terus meronta, Via semakin meronta dan sesekali mengerakkan tubuhnya ke kanan dan kekiri  sambil meronta "Dio..............please lepaskan aku........................uh................uh...............,ah awas kamu ih jangan nakal gitu Dio ah", tapi Dio terus mendekapkan dirinya di tubuh istrinya dan semakin berani mengarahkan jemari tangannya ke semua bagian tubuh Via, ketika wajah Dio mulai mencium semakin bawah Via sedikit menjerit aug Dio jangan nakal kamu bisiknya, tapi Dio sudah tak mau mengubris Via. Lama-lama Via terlihat sudah menyerahkan dirinya pada suaminya itu yang sudah dipenuhi keinginan yang penuh untuk membawa istrinya segera ke awan dan hanya sesekali terdengar rintihan dan jeritan Via yang kelihatannya sudah terbawa ke awan sama Dio.
Dio karena merasa malam pertamanya gagal, maka malam itu dia ingin balas dendam kebersamaan sama Via, sampai dia merasa puas terbayar kegagalan di malam pertama maka pagi itu tak terlihat dari kamar mereka berdua ada suara sedikitpun candaan, mungkin mereka berdua sangat kelelahan. Sekitar pukul 9.00 wib pintu baru terlihat terbuka dan ternyata Via hanya memakai baju tidur yang hanya tertali di tengah tubuhnya yang sedikit mini mulai berjalan turun ke lantai bawah dan segera ke dapur untuk memasak air dan segera membuat dua gelas teh hangat untuk mereka berdua dan tak lupa memangang roti dan memasak telur untuk sarapan pagi. Setelah itu dengan wajah ceria dan sedikit bernyanyi kecil dia terlihat berjalan ke kamar mandi dan mulai keluar dan menuju ke kamar ganti baju dan keluar-keluar sudah kelihatan cantik bersih dan wangi. Ketika bangun Dio sedikit kaget karena Via yang semalam ada didekapannya sudah tidak ada, Dio pun bangun dari tempat tidurnya lalu turun ke ruang makan dan disitu ia melihat Via yang sudah menikmati makan pagi, Dio segera duduk di kursi depan Via dengan masih agak kantuk, "Roti dan teh ini milik siapa Vi..." tanya Dio, Via tersenyum manis sambil menjawab "Ya milik kamulah...apa ada orang lain ?", "Makasih ya....Vi, kamu emang cantiiik dan baik banget..." rayu Dio, "Ehm...cowok kalau ada maunya pasti muji-muji dan kalau sudah diberi bilang baik...kamu cantik...manis" guman Via yang cukup terdengar oleh Dio. Dia berjalan mengambil serbet lalu menuju tempat duduk Via "Tapi kamu mau khan..........nyatanya kamu tadi malam tak menolak sampai pagi..." bisik Dio ditelinga istrinya itu. "Ih...Dio kamu nakal pagi-pagi udah cium dan pegang-pegang lagi....aduh Dio ih.....ah....uh....malu gitu ih Dio masih di ruang makan..." bisik Via, "Ayo...mau nggak bikin anak lagi..." bisik Dio sambil melihat ke wajah Via, Via menganggukkan kepala sambil tersenyum manja dan kedua tangannya dirangkulkan ke leher suaminya dan mereka berdua sudah ketawa ketiwi menuju ke kamarnya lagi untuk bersama-sama menikmati permainan baru yang masih gres mereka berdua punya yaitu permainan membuat baby.
Dari kamar mereka sesekali terdengar tawa dan canda dan lama sekali terdiam berikutnya ada suara Via mendesah...merintih dan sedikit menjerit dan sunyi lagi...terdengar desahan suara nafas eh ada yang sedikit aneh Dio mulai merintih dan nafasnya terdengar berat dan merintih lagi sedikit kencang dan sunyi lagi tak ada suara sedikitpun yang muncul dari kamar mereka berdua

Rabu, 11 Januari 2017 karya Mas Boy, bersambung tanggal 12 di tunggu ya.....




0 komentar:

Post a Comment

Paling Disuka

Translate